Senin, 02 November 2020

WINTER 

a f i i f a h   d e f f a r i


Di pagi hari musim salju ini, tersenyum bukahlah hal yang suram bagi orang-orang yang tinggal di Desa ‘Phlossom’ ini, mereka berlalu lalang melakukan aktivitas yang baru di musim dingin kali ini dengan pakaian hangat dan tebal. Mereka juga sering menyapa orang lain karena ini sudah menjadi kebiasaan di Desa Phlossom.

 

“Selamat pagi Luna, mau mengunjugi makam ibu mu?” Tanya seorang wanita pembawa kayu bakar tersebut. Dia adalah Nyonya Lilah, salah satu pembawa kayu yang terkenal di Desa Phlossom.

 

“Iyaa, badai salju semalam mungkin membuat nisan ibuku tertumpuk oleh salju.” Jelas Luna sambil mengosok-gosok tangannya yang kedinginan. 

 

“Baiklah Luna semoga hari mu menyenangkan.” Ucap Nyonya Lilah dengan senyumnnya.

 

Luna Amora gadis cantik dengan rambut panjang indah berwana putih agak kekuningan dihiasi oleh warna mata birunya yang sangat mempesona dan sempura. Sayangnya hidupnya tidak sesempurna itu. Ibunya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas ketika hendak pergi ke kota membeli keperluan untuk musim panas.

 

Saat ini Luna tinggal bersama Paman dan Bibi nya, mereka sangat kasar sering membentak Luna bahkan mimpi dan cita citanya pun mereka hancurkan. Luna sepertinya sudah tidak ada harapan lagi, dia pasrah dengan semuanya. Sekarang Luna dimakam ibunya. Tampa sarung tangan dia membersihkan nisan ibunya yang tertumpuk oleh salju hingga nama ibunya terlihat kembali dari nisan tersebut.

 

“Selamat pagi Ibu, aku membawakan mu bunga Amaryllis.” Luna menaruh bunga itu di tumpukan makan ibunya. Suasana pemakaman ini tampak seperti lapangan putih dan sangat sepi, hanya Luna yang berada di sana.

 

“Sepertinya aku yang pertama datang.” Ucapnya pada dirinya sendiri.

 

“Kau salah, aku yang pertama datang ke sini.” Suara berat dari lelaki tersebut mengejutkan Luna.

 

Luna memasang eksperesi bingung, dia sama sekali tidak pernah melihat wajah lelaki tersebut di Desa Phlossomini, “K-kau siapa?” Tanya Luna gugup.

 

“Oliver. Oliver Gaey, aku baru pindah berapa hari lalu dan itulah mengapa wajahku sangat asing disini.” Jelas Oliver.

 

Luna tidak begitu peduli, dia langsung pergi begitu saja dari pandangan Oliver dan pemakaman. Luna tidak terlalu suka berurusan dengan orang yang baru dia kenal lagipula dia juga sedikit berhati hati,siapa tau dia adalah pencuri yang berpura pura menyamar menjadi salah satu orang di Desa sini.

 

Oliver sedikit kesal karna Luna langsung pergi begitu saja, jadi dia memutuskan untuk mengikuti Luna. Dia melihat sekeliling pemandangan yang di penuhi oleh pohon yang tinggi, seperti hutan tetapi pepohonanya tidak begitu lebat cahaya matahari pun masih bisa terlihat dan pemandangan nya juga terlihat indah.

Sampai dimana dia melihat Luna duduk ditahan tampa alas. Luna menikmati pemandangan di depannya, ada danau yang besar tetapi dikarena kan sedang musim dingin danau tersebut beku.

 

“Hai.” Sapa Oliver kepada Luna.

 

“Kau mengikuti ku sampai kesini?!” Seru Luna dengan nada kesalnya.

 

“Tenanglah aku bukan penjahat ataupun pencuri, aku hanya ingin berkenalan denganmu.” Jelas Oliver menatap Luna tetapi arahnya matanya berpindah ke tangan Luna, terlihat banyak garis garis luka di tangannya.

 

Oliver duduk di samping Luna, tidak ada yang berbicara hanya ada kicauan burung dan suara angin hingga Oliver membuka suaranya. 

 

“It can be scary and challenging to show who you are but in the end, it’s you who live your OWN LIFE, so live it the way you want it to be. Aku pernah baca salah satu buku dan ini salah satu kalimat yang paling aku suka.” Oliver mengerti apa yang Luna rasakan apalagi saat melihat garis luka di tangannya.

 

“Maksud kamu?” Tanya Luna, walaupun sebenarnya dia mengerti apa yang di maksud oleh Oliver.

 

“Raih semua mimpi-mimpi kamu, selagi itu membuat kamu bahagia, selagi itu baik untuk dirimu. Kamu bisa ngelewati semuanya.” Luna tersenyum dengan apa yang Oliver bicarakan. Ini pertama kali bagi Luna mendapatkan semangat dari orang asing yang baru dia kenal.

 

“Luna Amora panggil saja Luna.” Ucap Luna dengan melontarkan tangannya kepada Oliver. Mereka berjabat tangan satu sama lain.

 

*****

 

Delapan Tahun telah berlalu kini Luna Amora di kenal oleh banyak orang. Dia menjadi penulis yang terkenal dan menerbitkan lima buku bahkan sudah di terjemahkan ke dalam 40 bahasa dan ‘Winter’ adalah buku pertama nya bahkan ‘Winter’ menjadi salah satu buku yang paling terlaris.

 

 

‘Yourself belong to yourself.

Kekalahan bukan ending

Dari semuanya anggap

Semua kekalahan itu adalah

Semangat untuk mu’

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar